Mbah Prawiro, Saksi Hidup Pasar Sentul Yogyakarta.

Yogyakarta, 31 Maret 2018

Pagi itu Yogyakarta menunjukkan sinar mataharinya yang cukup terik. Saya dan beberapa teman hunting pasar Jogjakarta mengunjungi salah satu pasar di daerah Puro Pakualaman Yogyakarta. Seperti biasa, pasar tradisional menunjukkan kesibukannya dan menawarkan keramahannya yang khas kepada saya dan teman-teman. Dalam menyusuri pasar ada satu hal yang menarik perhatian saya. Perempuan yang sudah tua tersenyum kepada saya, dan saya menghampiri beliau. Perempuan tersebut bernama mbah Prawiro. Sosok perempuan yang ramah ini bisa kita jumpai setiap hari di pasar Sentul Yogjakarta. Setiap hari mbah Prawiro menyapa setiap pengunjung pasar dengan berjualan arang kayu. Pasar Sentul sendiri, merupakan salah satu pasar tradisional di kota madya, tepatnya di jalan Sultan Agung, Margoyasan, Pakualaman, Yogyakarta. 
Sejak umur 12 tahun mbah Prawiro sudah menjadi penjual arang kayu di pasar tersebut. Tak terasa, kini usia mbah Prawiro sudah berada di angka 92 tahun, yang artinya beliau sudah berjualan di pasar tersebut selama 80 tahun. Bukan angka umur yang sedikit bila melihat pasar Sentul sendiri, baru berusia sekitar tiga dekade sejak diresmikan oleh walikota DIY pada saat itu yang dijabat oleh Soegiarto, tepatnya tanggal 22 Februari 1986. 
Simbah dengan 6 anak, 15 cucu dan 18 buyut ini bertempat tinggal di Botokan Banguntapan Bantul, Yogyakarta.

Photo & Story by: Wijosenoaji

Sejak umur 12 tahun mbah Prawiro sudah menjadi penjual arang kayu di pasar tersebut. Tak terasa, kini usia mbah Prawiro sudah berada di angka 92 tahun, yang artinya beliau sudah berjualan di pasar tersebut selama 80 tahun. Bukan angka umur yang sedikit bila melihat pasar Sentul sendiri, baru berusia sekitar tiga dekade sejak diresmikan oleh walikota DIY pada saat itu yang dijabat oleh Soegiarto, tepatnya tanggal 22 Februari 1986. 
Simbah dengan 6 anak, 15 cucu dan 18 buyut ini bertempat tinggal di Botokan Banguntapan Bantul, Yogyakarta. Setiap hari, anak dan cucunya selalu bergantian mengantarkan mbah Prawiro ke pasar Sentul.
Meskipun diusianya yang hampir mencapai satu abad mbah Prawiro tetap memiliki semangat besar untuk berjualan batu arang. Semangat tersebut juga terlihat dari caranya bercerita mengenai setiap detail suka dan duka perjalanan hidupnya di pasar yang baru-baru ini mendapatkan predikat sebagai pasar terbersih kedua se kota madya Yogyakarta. Meskipun pendengarannya sudah berkurang, namun mbah Prawiro masih sangat jelas untuk dapat berbincang dengan saya. Dalam hati saya bergumam, luar biasa mbah satu ini, sehat selalu nggih mbah...

© 2019 Hunting Pasar